Tampilkan postingan dengan label Travelling. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Travelling. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 November 2015

Seragam Untuk Sobat 2015

Perjalanan ini bisa disebut perjalanan ter-ekstrim yang pernah saya lalui seumur hidup. Mobil yang saya tumpangi bersama beberapa teman hampir saja melompat ke jurang di sebelah kiri jalan jika saja sang sopir tidak sigap mengendalikan mobil terios putih yang sudah berubah jadi abu-abu terkena debu. Saya hanya bisa terus merapal doa dalam hati. Kalaupun kami mati dalam perjalanan ini, paling tidak kami mati saat sedang mengantarkan seragam untuk sobat kecil di pedalaman Barru.
“dimana kah sebenarnya desa yang mau kita datangi ?” driver yang membawa kami sudah beberapa kali melontarkan pertanyaan yang sama. Pertanyaan yang saya  pun tidak tahu jawabannya. yang s aya tahu, desa itu berada di kecamatan Pujananting, Kabupaten Barru. Untuk menuju kesana,  sudah ada teman yang menunggu kami di Kota Barru yang nantinya akan mengantarkan sampai  ke lokasi penyaluran seragam.

Estimasi perjalanan kami ternyata salah. Berangkat pukul 15.00 dari kota Makassar membuat kami sampai di kota Barru saat adzan Maghrib sudah berkumandang. Setelah mampir shalat, mobil kembali melaju menembus jalanan Barru yang berkelok-kelok.

Karena gelap, praktis kami tidak bisa menikmati pemandangan di sepanjang jalan. Penerangan hanya berasal dari 3 mobil rombongan kami. Selebihnya berasal  dari rumah warga yang berjejer di kiri kanan jalan. Semakin jauh melalui jalan berkelok kiri kanan jalan sudah berubah menjadi hutan belukar.

Beberapa kali saya mencoba memejamkan mata, tapi gagal. Sopir yang tadi tidak berhenti melontarkan pertanyaan kepada kami sekarang sudah diam bak kehabisan batrei. Mungkin ia lelah. Hanya Cita Citata yang masih semangat melantuntankan lagu-lagunya lewat pemutar dvd yang ada di mobil.

Setelah melalui perjalanan yang panjang dan seru rombongan kami sampai juga di desa Pattallassang, kecamatan Pujananting, Kabupaten Barru. Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam. Kami disambut oleh beberapa warga dengan jabat tangan yang sangat erat sertad isuguhi berbagai macam makanan. Katanya mereka sudah menunggu kedatangan rombongan kami sejak sore. 

Keesokan harinya setelah shalat subuh yang sedikit telat, saya keluar dari rumah panggung tempat kami istirahat. SD Inpres Pattalassang berdiri hanya beberapa meter dari rumah. Kami memilih berkeliling sekolah serta menghirup udara segar khas pedesaan di pagi hari.

Baru beberapa menit berkeliling sekolah, sudah muncul satu dua anak SD dengan seragam olahraga dan alas kaki sandal. Wajah mereka terlihat segar. Dari informasi yang saya dapatkan dari pihak sekolah, beberapa diantara mereka harus berjalan kaki beberapa kilometer untuk sampai di sekolah. Itu sebabnya mereka harus berangkat pagi-pagi buta jika tak ingin terlambat.
Karena penasaran, saya berusaha mendekati anak perempuan yang berdiri dekat tiang bendera. Ia tampak malu-malu dan sesekali melirik ke arah kami. Beberapa beberapa pertanyaan saya ajukan tapi ia tidak bergeming. Hanya menunduk kemudian memainkan daun-daun bunga yang ada di hadapannya.  Baiklah, saya tidak akan memaksa.

Setelah perkenalan yang gagal  itu, saya memutuskan kembali ke rumah tempat kami menginap. Bersama beberapa teman menyiapkan perlengkapan yang akan digunakan serta memastikan seragam sudah dipacking dengan rapi.

Setelah semua siswa berkumpul, kami memperkanalkan diri dan membawakan games kepada adik-adik. Senang sekali melihat wajah ceria mereka. setelah bermain games dan ice breaking, tanpa disangka driver yang membawa kami juga ikut memperkenalkan diri dan menceritakan sebuah dongeng. Saya surprise karena ia terlihat sangat mantap bercerita tentang monyet dalam bahasa daerah. Sebagai informasi, anak-anak menggunakan bahasa daerah dalam komunikasi sehari-hari. meskipun demikian, mereka tetap bisa mengerti bahasa Indonesia sederhana.

Kegiatan sudah selesai, seragam sudah dibagikan, saatnya kami kembali ke Makassar. “Terima kasih kak, sudah diijinkan ikut kegiatan ini. Kalau ada kegiatan lain ajak-ajak ya” Ismi, gadis manis yang ikut dalam rombongan kami berkomentar. Saya hanya tersenyum dan berterima kasih kembali kepada adik-adik hebat SD Pattallassang. Mereka berada jauh di puncak gunung. Jauh dari akses listrik tetapi bisa melihat lampu kerlap kerlip Kota Pangkep dan Barru di malam hari. Semoga puluhan kilometer jalan kaki mereka terbalas dengan impian yang dikabulkan. Aaamiin.

mereka adalah masa depan Indonesia

Relawan menyiapkan seragam yang akan dibagikan

Ibu guru mengatur barisan

Anak yang bangun terlalu pagi (mungkin) :D

Berisap-siap untuk games
Berbeda itu tidak penting




Minggu, 21 Juni 2015

Catatan Perjalanan ke Suku Baduy Dalam (Part 2)

Pada tulisan sebelumnya saya sudah menceritakan separuhperjalanan saya ke suku Baduy Dalam serta bagaimana cara ke suku Baduy Dalam. Dalam tulisan ini saya akan melanjutkan ‘curhatan’ tentang perjalanan ke suku yang menyebut diri mereka orang kanekes ini.
Lagi-lagi berfoto sebelum kembali ke Jakarta
Sampai di tempat yang dituju setelah berjam-jam perjalanan seperti menemukan oase di padang pasir, rasanya sangat senang dan lega . Semoga perumpamaan ini tidak terlalu lebay, karena perasaan lega yang sama saya rasakan saat menginjakkan kaki di perkampungan suku baduy  dalam. Setelah perjalanan melalui tanjakan dan turunan yang tak terhitung serta harus menembus hujan, wajar rasanya saya ingin berteriak keras-keras begitu duduk di teras rumah warga baduy ala pendaki Mahameru gitu.  Untungnya saya masih ingat kalau sedang berada di kampung orang dan harus menjaga sikap (hehhe). 

Belum juga kami masuk ke salah satu rumah warga untuk istirahat,  penjual-penjual buah tangan khas Baduy sudah langsung menghadang  kami dengan  berbagai macam barang untuk dibeli. Mana suku Baduy yang anti modernisasi itu ? Saya sedikit takjub. Penjual-penjual ini ada yang berpakaian Baduy, ada juga yang mengenakan kaos oblong. Belakangan saya tahu kalau pedagang yang berkaos oblong adalah orang  luar yang datang menjajakan dagangan mereka di kawasan suku Baduy Dalam setelah sebelumnya  membayar sejumlah uang ke Jaro (tetua adat). Semacam uang pajak dagang mungkin.

Sebelumnya, ketika memasuki area kampung , sudah ada penjual makanan dan minuman yang menjajakan dagangan mereka di depan rumah-rumah warga.  Bukan makanan atau minuman tradisional ya, tapi makanan dan minuman yang ber ‘merk’ dan banyak diiklankan d tivi. What a surprise!

Suku Baduy ternyata sudah mulai terbuka dengan dunia luar. Dalam ilmu antropologi, warga suku Baduy Dalam sedang mengalami proses akulturasi. Menurut Koentjaraningrat, bapak antropologi Indonesia, akulturasi merupakan proses sosial yang timbul jika sekelompok manusia dengan kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur-unsur kebudayaan asing. Akibatnya, unsur-unsur kebudayaan asing diterima dan diolah kedalam kebudayaan sendiri tanpa menyebabkan hilangnya kebudayaan asli. Proses ini berlangsung lama karena diterima secara selektif oleh anggota dalam kebudayaan tersebut, seperti yang terjadi di Baduy Dalam. 
anak-anak suku baduy

Selain soal penjual tadi, Buku IPS masa sekolahku ternyata tidak salah, Baduy Dalam memang belum tersentuh listrik. Sumber penerangan hanya obor, lampu charger serta senter yang kami bawa. Kalau masih hidup, mungkin Thomas Alfa Edison akan bersedih melihat masih ada sekelompok orang yang tidak mengggunakan listrik. Bukan karena tidak mendapatakan akses, tapi mereka memang tak mau ada listrik di Suku Baduy Dalam.  Katanya, menggunakan listrik melanggar adat.

Kekukuhan masyarakat Baduy Dalam dalam memegang adat bukan tanpa alasan. Mereka percaya, dengan turun temurun menjaga warisan nenek moyang dan menjaga alam, maka alam juga yang akan menjaga mereka.  Aih, mungkin pejabat-pejabat di kota sana harus studi banding ke kampung ini, bukan ke luar negeri.  Belajar tentang bagimana menghargai dan mencintai alam. Biar tidak ada lagi pembalakan liar perusahaan tertentu yang ijinnya dengan mulus disetujui oleh mereka.

Karena tidak boleh mengambil gambar, tak ada satupun foto kami di  Baduy Dalam. Sudah menjadi aturan tidak boleh berfoto di area suku Baduy Dalam. Tidak hanya itu, pengunjung atau orang luar yang masuk ke suku Baduy Dalam juga tidak diperkenankan menggunakan detergent, sabun atau pasta gigi di sungai. Wah, hidup seperti ini akan sangat menghemat belanjaan. Tapi kalau di kota, saya tidak sarankan melakukan hal serupa.

Kalau dilihat dari model rumah suku Baduy Dalam, tidak jauh dari model rumah suku Baduy Luar. Mungkin bedanya terletak pada penggunaan alat pembuatannya. Baduy dalam tidak menggunakan paku, sedangkan Baduy luar sebaliknya. Bagian dalam rumah suku baduy dalam sangat sederhana. Ada ruangan lapang seperti ruang tamu,  dengan satu kamar bersekat serta dapur. Saya tak melihat ada jendela.

Keberadaan kami di suku baduy dalam hanya beberapa jam saja. Boleh dikatakan, kami hanya menumpang tidur, makan dan buang air. Waktu yang terbatas serta medan perjalanan yang masih jauh membuat kami harus meninggalkan Suku Baduy Dalam secepatnya.

Keesokan harinya, tepat jam 8 rombongan kami meninggalkan perkampungan suku Baduy Dalam setelah sebelumnya pamit pada tuan rumah yang begitu ramah. Kami melalui jalur yang berbeda kali ini. Dengan rute tanjakan dan turunan yang hampir sama dengan jalur kedatangan kami. Bedanya, beberapa kilometer sebelum perkampungan terakhir, jalanan sudah berubah menjadi bebatuan bercampur tanah yang bisa dilalui motor dan mobil.

Di perjalanan pulang, kami melalui beberpaa jembatan. Salah satunya jembatan akar yang terletak di kampung Batara. Jembatan akar ini panjangnya sekitar 15 meter (saya agak buruk dalam memperkirakan jarak +_+) yang terbentang diatas sungai Ciujung. Jembatan ini terbuat dari akar yang kokoh serta bambu sebagai tempat berpijak. Sayangnya ada banyak tulisan di jembatan akar yang sungguh merusak mata. semoga tidak ada lagi yang melakukan hal serupa.
jembatan akar yang terbentang kokoh






Setelah jembatan akar, jembatan-jembatan selanjutnya tergolong modern karena sudah tidak menggunakan akar atau bambu lagi. Di dekat jembatan-jembatan yang ‘modern’ ini terdapat tugu berukir PNPM mandiri pedesaan, progam pemerintah yang  memberdayakan masyarakat pedesaan. Program ini berhenti di akhir tahun 2014.

Rombongan kami yang terdiri dari mayoritas kaum hawa mempunyai karakter yang berbeda-beda. Ada yang ramah, cool, pendiam, dan ribut. Tentunya terlalu dini jika menilai orang hanya dari pertemuan satu hari, tapi bagi saya itu cukup untuk sekedar memberikan gambaran sederhanana tentang karakter dan watak mereka. Sebut saja Eneng, perempuan berparas manis yang sukses jadi bulan-bulanan anggota trip. Sifatnya yang periang dan doyan foto membuatnya bisa dekat dengan siapa saja. Ia bisa menjadi penghibur disela lelah perjalanan yang menjadi-jadi.

Over all, perjalanan kali ini menyisakan banyak kenangan. Saya menemukan banyak teman-teman baru yang tak terlupakan. Perempuan-perempuan berotot besi bertulang baja yang mampu menembus jalan yang kadang terjal dengan ngos-ngosan, tapi secara ajaib bisa kembali bersemangat dan memasang senyum sumringah saat melihat kamera.

Tidak lupa juga dengan Mas-Mas super keren yang jumlahnya hanya segelintir saja. Termasuk akang-akang Baduy yang menjadi guide kami. Eh, tapi jangan salah, mereka yang ‘segelintir’ ini yang menjaga kami (kaum hawa) dan memastikan tidak ada yang tertinggal di belakang. Yang dengan sabar mengikuti ritme berjalan kami yang terkadang melambat karena lelah. Yang bersedia membawakan tas kami masih dengan senyum.
teman baru, saudara baru
Semoga kita bisa dipertemukan dengan perjalanan-perjalan seru lainnya, dan bisa terus bersyukur bahwa kita dilahirkan di bumi Indonesia.

PS: Kami ketinggalan kereta  jadi harus naik angkot menuju stasiun maja dan nyambung naik commuter line. Sebenarnya mobil elep yang kami kendarai dari desa terakhir harusnya bisa mengantarkan kami sampai stasiun maja, tapi karena Remnya sedang tidak bersahabat sehingga sang sopir tak berani mengantarkan kami lebih jauh. Terima kasih bapak-bapak sopir yang tidak sempat saya tanyakan namanya :D

Rabu, 10 Juni 2015

Bagaiamana Cara ke Suku Baduy Dalam ?

If you want to go fast, go alone. If you want to go far, go together
Kutipan diatas adalah kutipan dari African proverb yang sangat terkenal. Hal yang sama saya rasakan saat melakukan traveling ke Suku Baduy dalam di kabupaten Lebak, Banten. Pengalaman pribadi sudah saya tuliskan di catatan perjalanan kesuku Baduy dalam. Tapi karena tulisan tersebut banyak curhatannya, kali ini saya akan menuliskan bagaimana cara ke Suku Baduy dalam serta persiapan apa saja yang dibutuhkan jika ingin kesana.
Anak-anak Suku Baduy Dalam
Foto : Mas Agit

Jangan berpikir karena tujuan perjalan adalah kampung jadi tidak menyiapkan perlengkapan yang lengkap ya. Kamu akan bernasib naas seperti saya, kehujanan. Oleh karena itu sangat disarankan untuk mempersiapkan semua perlengkapan sebelum berangkat ke Baduy Dalam yaitu
  • Carrier atau Ransel yang nyaman.  Dengan begitu kamu akan terhindar dari sakit punggung karena terlalu lama membawa beban yang berat
  • Mantel Hujan. Gunakan mantel hujan yang terbuat dari plastik. Harganya murah dan praktis karena tidak berat dan bisa dijejalkan diantara barang-barang yang lain
  • Sleeping Bag. Udara di Suku Baduy dalam tidak terlalu dingin. Tapi ketika memasuki pukul 03.00 dini hari, dijamin tidurmu tidak akan nyenyak karena kedinginan jika tak membawa sleeping bag.
  • Sarung. Penting untuk membawa sarung karena fasilitas buang air di Baduy adalah sungai dengan alam terbuka. Gunakan sarung untuk menutup muka kamu biar gak ketahuan saat buang air (hehehe)
  • Makanan. Suku Baduy Dalam sangat suka dengan ikan asin. Jadi tidak ada salahnya membawa ikan asin untuk dikonsumsi saat tiba di Baduy Dalam dan untuk diberikan kepada tuan rumah karena sudah mengijinkan kalian tinggal di rumah mereka. Beras dan mi instan jangan lupa ya.

For your information, perjalanan ke Suku Baduy Dalam bisa memakan waktu sampai 5 jam. Rute yang dilalui tidak terlalu susah tapi butuh tenaga extra untuk bisa tetap kuat sampaii tujuan. Ada banyak tanjakan dan turunan yang lumayan terjal. Jadi silahkan perkirakan, alas kaki jenis apa yang akan kamu gunakan J

Untuk biaya perjalan ke Suku Baduy Dalam saya membayar 185 ribu karena mengikuti open trip dan sudah ada panitia yang mengatur  transportasi dan sebagainya. Tapi jika ingin melakukan perjalan ke sana berikut saya tuliskan rinciannya tidak termasuk konsumsi:
  • Dari stasiun tanah abang,  berangkat menggunakan Kereta Rangkas Jaya tujuan akhir Rangkas Bitung dengan harga tiket Rp. 15.000
  • Dari stasiun Rangkas Bitung, kamu bisa menyewa satu mobil ‘elep’ sampai ke Ciboleger dengan harga sewa Rp 800.0000
  • Jika kamu tidak melakukan perjalan rombongan seperti yang saya lakukan, maka dari stasiun Rangkasbitung, kamu harus naik Angkot berwarna merah menuju terminal mandala kemudian naik angkot lagi sampai terminal Aweh. Dari terminal Aweh naik angkot ke terminal Lewidama. Nanti di terminal inilah kamu akan menemukan mobil ‘elep’ sejenis mini bus yang akan mengantarkan kamu sampai ciboleger. Dari informasi yang saya dapatkan dari sopir, biaya sampai di ciboleger dari stasiun Rangkasbitung sekitar 30an ribu.

Ketika sampai di ciboleger, kamu akan dengan mudah menemukan porter yang siap membawakan barang bawaan kamu sampai tujuan dengan biaya seikhlasnya. jangan  lupa, sebelum memulai perjalanan, kamu harus melapor dulu ke kepala desa Baduy. Akan dipungut biaya kebersihan sejumlah Rp 50.000 rupiah  yang akan diberikan kepada jaro atau ketua adat suku Baduy Dalam.
Oleh-oleh dari Baduy Dalam

Ada banyak pilihan oleh-oleh yang bisa kamu bawa dari Suku Baduy Dalam. Ada baju kaos Baduy, baju khas Baduy, sarung tenun, syal, gantungan kunci, madu, gelang, kalung, dan tas dari akar.
Harganya beragam. Gantungan kunci khas baduy semuanya seharga Rp 5000. Baju kaos baduy harganya Rp 35.000.

Do's and Don'ts selama di Baduy Dalam
  • DO. Bersikap sopan dan menghargai budaya masyarakat asli suku baduy Dalam. 
  • DO. Mengikuti aturan yang sudah disebutkan oleh warga

 Don’t
  • Membuang sampah sembarangan selama parjalanan maupun saat sampai di kampung Baduy Dalam. Siapkan kantong plastik untuk membawa sampahmu.
  • Memotret di kawasan Baduy Dalam
  • Memakai sabun, detergent atau pasta gigi di sungai
  • Menulis atau meninggalkan jejak tulisan di batu, pohon, akar atau apapun itu. Tindakan ini merupakan bagian dari merusak alam dan vandalisme



semoga infonya bermanfaat :D

Kamis, 04 Juni 2015

Cara Naik Kereta di Jakarta


Sudah hampir dua minggu saya di Jakarta dan tak pernah sekalipun mencoba transportasi publik. Bayang-bayangan kejahatan dan kriminalitas yang tinggi di Ibu kota membuat nyali saya ciut. Bagaimana kalau  dicopet? Bagaimana kalau dirampok? Bagaimana kalau saya dihipnotis? Pikiran-pikiran seperti itu membuat kamar kosan saya menjadi begitu sumpek.

Akhir minggu ke dua, saya memutuskan untuk mencoba Commuter Line (KRL)/ Kereta Jakarta. Tentu sebelumnya saya banyak bertanya pada teman di jakarta yang sudah terbiasa naik kereta. Mereka meyakinkan, naik kereta itu aman.
Hal pertama yang saya lakukan adalah browsing cara naik kereta. Informasi dari teman-teman belum cukup meyakinkan. Tidak lupa, peta jalur kereta saya download dan simpan dengan rapi di galeri hape.

Seperti halnya trans Jakarta, KRL Jakarta sudah tidak menggunakan tiket kertas atau uang cash. Mungkin ini salah satu upaya pemerintah dalam menciptakan less cash society dan transportasi yang lebih praktis. Sebagai gantinya, disediakan tiket kereta berbentuk kartu yang dibeli pada loket dan tersedia di semua stasiun kereta. Uang elektronik juga bisa digunakan untuk pembayaran tiket kereta.
Saat memasuki stasiun, kita akan menjumpai gerbang. Di gerbang inilah kartu tiket atau uang elektronik di screening atau di Tap yaitu meletakkan kartu di tempat yang tersedia, maka saldo uang elektronik anda akan otomatis dikurangi untuk pembayaran tiket. 

Hal utama dan paling utama saat melakukan perjalanan adalah mengetahui tujuan akhir anda. Pastikan dulu dimana tempat yang akan dituju dan sesuaikan dengan jalur kereta. Misalnya, saya mau ke Kota Tua Jakarta. Dari informasi yang saya dapatkan, kota tua jakarta bisa ditempuh dengan berjalan kaki dari stasiun Kota. Artinya saya harus turun di stasiun kota. Nah, saya berangkat dari stasiun palmerah jadi harus transit di stasiun tanah abang, kemudian naik kereta lagi dan transit di manggarai. Dari stasiun manggarai lalu mengambil kereta jurusan stasiun Kota Jakarta. So, pahami dulu cara membaca peta dan pastikan kamu mengerti.

Ada kalanya kita harus menunggu kereta di stasiun. Sebelum naik kereta, lihat tulisan yang tertera di stasiun. Akan ada nomor jalur dan tujuan kerta. Tapi, jalur kereta bisa berubah sewaktu-waktu  loh. Jadi bertanyalah pada petugas stasiun kereta api. Mereka gampang sekali ditemui karena mengenakan seragam mirip tentara. Mereka berdiri hampir di setiap sudut stasiun.

Menggunakan transportasi publik artinya kamu siap berbagi dengan orang lain karena transportasi itu bukan milik kamu (ya iyalah +_+). Jumlah penumpang kereta bisa membeludak dipagi hari jam kerja atau sore hari, sepulang jam kerja. Jadi kamu harus siap berdesak-desakan, mencium segala aroma penumpang yang lain atau berdiri karena tidak kebagian tempat duduk.

Perlu kamu tahu, gerbong kereta paling depan dan paling belakang adalah khusus untuk perempuan. Tandanya, gerbong  berwarna pink dan cerah bergambarkan perempuan. Karena gerbong ini khusus perempuan, kamu yang laki-laki akan diusir oleh petugas jika berani duduk di gerbong ini.
Beberapa kursi di gerbong kereta disebut kursi prioritas. Kursi ini khusus untuk orang-orang difable, orang tua, orang hamil atau orang yang membawa anak. Sebenarnya semua kursi di dalam transportasi umum adalah kursi prioritas. Saat kamu duduk dan melihat ada ibu hamil yang berdiri, ambillah inisiatif untuk mempersilahkannya duduk. Bayangkan kalau kamu adalah dia. *eh. Atau bayangkan kalau yang berdiri adalah ibu kamu. Dengan begitu, akan lebih mudah mengikhlaskan diri. Dengan belajar peka dan perhatian dengan lingkungan sekitar, yakinlah, Tuhan akan menurunkan berkahnya kepada kita.

Berada di transportasi publik dengan banyak petugas tidak serta merta menjauhkan kamu dari bahaya atau kejahatan orang lain. Bukan bermaksud menakut-nakuti ya, tetapi tidak ada salahnya untuk tetap waspada. Caranya, jika membawa tas ransel, selalu letakkan ranselmu di depan. Selain itu, letakkan benda-benda berharga seperti dompet dan hape di kantong tas paling dalam. Jangan gegabah, kejahatan bukan hanya terjadi karena ada niat tapi juga karena ada kesempatan. Waspadalah! Waspadalah!

Oh iya, di dalam kereta juga terpampang peta jalur kereta tepat diatas setiap pintu gerbong. Setiap akan memasuki stasiun tertentu, akan ada suara operator yang menyebutkan nama stasiun tersebut.
Setelah sampai di stasiun terakhir, segera cari toilet jika kamu ingin pipis, atau mushallah jika kamu ingin shalat. Tap kembali tiket atau uang elektronik yang kamu punya di gerbang keluar stasiun.


Terakhir, jangan pernah takut untuk naik transportasi umum. Banggalah telah menjadi salah seorang aktivis lingkungan. Karena naik transportasi umum artinya kamu tidak ikut menyumbang polusi gas rumah kaca. Selamat mencoba kereta, tetap waspada ya J