Rabu, 10 Juni 2015

Catatan Perjalanan ke Suku Baduy Dalam (part 1)

Sebelumnya tidak pernah terpikirkan akan melakukan trip ke suku Baduy di Banten. Ingin sekali saya tuliskan kalau semua ini terjadi karena kebetulan. Kebetulan saya  di Jakarta, kebetulan buka facebook dan menemukan postingan open trip, kebetulan punya teman komunitas di Makassar yang ternyata berteman dengan penyelenggara trip, kebetulan lagi punya duit, kebetulan sudah lama tak melakukan perjalan jauh. Tiba-tiba terngiang perkataan salah seorang teman “tak ada yang kebetulan di dunia ini. Semuanya sudah di gariskan oleh Tuhan”
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Saya tahu tentang suku baduy pertama kali dari buku pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial SMP dan SMA. Tidak banyak yang tersimpan di memori tentang mereka, hanya segelumit saja. Mereka katanya tak tersentuh dunia luar, memilih kehidupan bersahaja tanpa tergerus arus modernisasi. Tak memakai sabun, detergent, dan pasta gigi. Haram  listrik serta pendidikan formal. Saat melihat postingan open trip ke suku Baduy Dalam grup Sigi (Sahabat Indonesia Berbagi) di facebook, tanpa pikir panjang saya mengajukan diri untuk mendaftar. Saya menjadi begitu antusias untuk  melihat mereka secara langsung dan membuktikan kebenaran dari buku pelajaran IPS itu.

Perjalanan di mulai dari Stasiun Tanah Abang dengan dengan kereta api Rangkas Jaya tujuan akhir stasiun Rangkas Bitung. Hampir ketinggalan kereta, sedikit tergopoh-gopoh saya keluar dari commuter line dan mencari teman-teman yang lainnya. Orang yang pertama kali saya temui adalah Mas Endang, lelaki ramah berkaca mata yang merupakan anggota Sigi dan ketua untuk trip kali ini. Ia menunggu di jalur 6, stasiun tanah abang. Benar saja, baru duduk beberapa menit di bangku, kereta sudah melaju. Hampir saja saya ketinggalan kereta.

Mbak Eka, Mbak Alika, Mbak Afika dan Mas yang saya lupa namanya. Mereka adalah anggota trip yang duduk di bangku samping dan depan saya saya saat di kereta. Dari hasil ke-kepoan, saya tahu kalau mbak Eka adalah pekerja di salah satu perusahaan kontraktor  dan Alika adalah fotografer majalah. Mas Endang duduk di sebelah kiri saya. Dari ceritanya saya tahu kalau dia sudah pernah ke Makassar. Tak heran kalau sedang berbicara dengan saya, sesekali ia menggunakan aksen dan bahasa makassar, tapi tetap saja kedengaran aneh di telinga ‘Makassar’ saya (hehehe)

Perjalanan dari stasiun Tanah abang ke Stasiun Rangkas Bitung memakan waktu sekitar 1,5 jam. Waktu yang cukup lama. Saya mencoba menutup mata tapi tetap tak bisatertidur. Sesekali berseliweran pedagang yang menjual aneka makanan dan minuman. mereka berpakaian rapi, ada juga yang berdasi. “yang menjual itu petugas stasiun kereta, sekarang pedagang asongan tidak boleh lagi berjualan di dalam gerbong” Mbak Eka menjelaskan. Saya manggut-manggut, memuji kebersihan dan manajemen kerta yang bagus. Berharap Makassar atau sulawesi selatan bisa punya kereta juga.

Sampai di stasiun Rangkas Bitung, kami harus menunggu lagi sekitar setengah jam. Ternyata ada anggota trip yang tertinggal dan menyusul dengan kereta lain. Sambil menunggu, saya berbincang dengan Mas Mas bercelana batik bernama Agit. Dia anggota trip juga. bekerja sebagai kontributor di TV Asahi Jepang. Dengan aksen jawa yang terdengar jelas saat berbicara, saya sudah bisa pastikan kalau dia bukan orang Makassar (+_+). Mas Agit bercerita kalau dia pernah berkunjung ke Makassar dan mencoba kuliner khas coto makassar. Ia juga mengunjungi  Bantimurung, salah satu objek wisata yang terletak di kabupaten Maros, tidak jauh dari kota Makassar.
Rombongan Sigi Indonesia Adventure (Sign In) Berfoto di Stasiun Rangkasbitung
Foto : Mba Rebeca

Setelah agak lama menunggu, teman-teman yang ditunggu akhirnya datang juga. mereka adalah K’Kiki dan mbak Ipah. Ternyata K’Kiki adalah orang Makassar ji juga. Senang bisa bertemu teman dari daerah yang sama. Belakangan saya tahu kalau K’Kiki hijrah ke jakarta beberapa tahun lalu dan bekerja di Alfa, salah satu perusahaan waralaba swalayan terbesar di Indonesia.
Perjalan selanjutnya dilanjutkan dengan menyewa mobil Elf. Orang-orang menyebutnya mobil ‘Elep’. Rombongan kami yang berjumlah sekitar 24 orang dibagi dua karena satu mobil Elep hanya bisa memuat 13-14 orang penumpang.  

Mobil Elep yang kami tumpangi berwarna kuning cerah. Akang sopirnya memacu Elep dengan sangat kencang. Saya yang duduk di kursi paling belakang sesekali harus menahan nafas saat Elep berpapasan dengan kendaran lain di tikungan dan Pak sopirnya sama sekali tidak menurunkan kecepatan. Ditambah lagi, Jalan yang kamui lalui tidak bisa disebut mulus. Banyak lobang disepanjang ruas jalan. Sempat juga kami terjebak macet karena ada truk pengangkut pasir yang bannya kempes dengan sukses di tengah jalan sempit. Butuh hampir setengah jam untuk bisa lolos dari kemacetan tersebut.

Tepat jam 13.00 mobil yang kami kendarai tiba di Ciboleger yang merupakan gerbang masuk ke Baduy. Di tempat ini sudah terlihat banyak orang-orang berpakaian khas suku badui, mereka baju hitam dan putih, memakai ikat kepala, mengenakan tas dari kain atau akar serta tidak beralas kaki. Mereka duduk-duduk dan berbincang, ada juga yang berdiri dan memperhatikan wisatawan yang datang. Biasanya mereka menjadi guide atau porter untuk pendatang yang ingin ke Baduy.

Di tempat ini juga rombongan kami shalat dan makan siang. Tersedia Alfa mart, warung makan, serta berbagai penjual oleh-oleh khas suku baduy seperti gantungan kunci, tas dari akar, gelang, kalung, dan baju khas Baduy. Saran saya, sebaiknya belanja saat tiba di Baduy dalam saja. Karena berbelanja oleh-oleh sebelum memulai perjalanan  akan menjadi kurang praktis dan menambah beban bawaan anda.

Setelah rombongan shalat dan makan, kami melanjutkan perjalanan. Dimulai dengan mendaki anak tangga yang tidak saya hitung jumlahnya. Hanya beberapa menit mendaki kami tiba di gerbang bertuliskan ‘selamat datang di baduy’

Sepanjang perjalanan akan terlihat pemandangan khas pedesaan yang menawan. Ada sungai, jembatan dari bambu, pepohonan di sepanjang jalan, serta udara yang segar. Beberapa teman terlihat  berkali-kali berhenti untuk berfoto mengabadikan pemandangan yang jarang di temui ini.
Meniti Jembatan Bambu
Foto : Mba Rebeca

Berfoto Seperti ini Yang menghabiskan Banyak waktu di jalan =_=
foto : Mba Rebeca


Desa baduy terdiri dari dari baduy dalam dan baduy luar. Baduy dalam adalah masyarakat suku baduy yang masih berpegang teguh pada kepercayaan untuk tidak menggunakan peralatan modern dalam kehidupan sehari-hari. Ada tiga kampung di derah Baduy Dalam yaitu Cibeo, Ciketarwana dan Cigesik.  Sementara baduy luar adalah masyarakat baduy dalam yang ‘terusir’ atau keluar karena melanggar adat. Hal-hal melanggar adat seperti menggunakan paku untuk membangun rumah, menikah dengan orang baduy luar, atau memilih untuk keluar dari baduy dalam.

Kampung yang akan kami datangi adalah kampung Cibeo yang terletak di Baduy Dalam. Butuh perjalanan sekitar 5 jam untuk sampai ke kampung Cibeo. Kami harus melewati perjalanan naik turun bukit dan melalui sekitar 8 kampung yaitu Kaduketung, Cipondok, balimbing, Marengo, Gajebo, Cicakal, Cepakbungur, dan tembayang.

Semua anggota rombongan terlihat sangat ceria dan segar di awal perjalanan. Beberapa jam berikutnya satu persatu dari mereka terlihat mulai melangkah dengan gontai. Termasuk saya yang sudah bercucuran peluh dan menghabiskan beberapa botol air minum. Jalan yang saya pikir mulus ternyata penuh dengan tanjakan dan turunan yang lumayan menyita energi. Kalau mau membandingkan, perjalanan ke kampung Cibeo hampir sama dengan perjalanan ke  lembah Ramma’ di sulawesi selatan.
Ngobrol sambil menikmati pemandangan bisa mengalihkan dari rasa lelah karena perjalanan
Foto : Mba Rebeca

Istirahat Dibutuhkan Untuk memulihkan Kembali Tenaga Yang Terkuras

Pemandangan Dari Atas Bukit
Foto : Mba Rebeca


“kita sampai sekitar jam 8 malam” kata Kang erwin (semoga saya tidak salah ingat nama), orang Baduy Dalam yang menemani perjalanan kami. Saya sedikit shock. Perjalanan sudah terasa sangat jauh dan kami belum juga tiba di tujuan. Langit juga terlihat mendung. Dalam hati saya terus berdoa semoga tidak hujan.

Doa saya tidak terkabul, gerimis mulai turun berupa bintik-bintik air. Beberapa anggota rombongan terlihat berhenti untuk memakai mantel hujan. Saya sendiri tidak membawa mantel karena kurang persiapan. Jadinya, saya cuma bisa pasrah diguyur hujan sambil berharap nanti tidak sakit atau tiba-tiba pingsan di jalan karena kedinginan.

Hal yang saya syukuri saat hujan adalah kami sudah melalui tanjakan terjal berupa tanah liat yang bisa saya pastikan akan sangat licin dan berpotensi menelan korban terpeleset.  Tanjakan itu bernama tanjakan cinta. Sejarah nama tanjakan cinta tak begitu jelas. Yang pasti, tanjakan cinta itu benar-benar membuat kami jatuh cinta sampai ingin menangis rasanya. Saya, Alika dan Luluk tertawa menghibur diri saat melalui tanjakan cinta.

Gelap sudah mulai menyelimuti hutan yang kami lalui. Masing-masing sudah menyalakan senter dan headlamp untuk menerangi jalan yang gelap. Lagi-lagi saya tak membawa senter. Lengkap sudah perjalanan yang saya lalui, hujan tanpa mantel dan gelap tanpa senter. Beruntung saat gelap kami berjalan tak berjauhan. Menjaga satu sama lain. Mbak Rebeka, perempuan tinggi berambut lurus yang berjalan di depan saya harus terus menoleh setiap beberapa langkah. Menerangi jalan yang saya lalui serta memastikan tidak tersandung batu atau akar pohon.

Hujan semakin deras, saya berhenti mengambil napas dan memegangi kepala saya yang terasa agak berat. “pusing mbak?” suara laki-laki di belakang saya menegur. “enggak koq” saya lanjut melangkahkan kaki. “pusingnya jangan dirasain mbak” laki-laki itu melanjutkan. Saya tertawa kecil “maksudnya pusing jangan dirasain gimana?” saya terus melangkahkan kaki. Menerobos aliran air yang mengaliri jalan yang kami lalui. “Sakit itu datangnnya dari pikiran. Sama dengan pusing. Kalau tidak dipikirkan maka pusingnya tidak akan terasa”. Benar juga sih, sedari awal saya memang sudah meng-sugesti diri sendiri setiap kali mendaki dan merasa nafas dan kaki sudah tidak mampu melanjutkan perjalanan lagi. Tapi begitulah, sugesti saya kadang tak selalu berhasil.

Malam sudah semakin pekat, hujan pun sudah mulai reda. Kata akang baduy yang mengantarkan kami, kampung Cibeo sudah dekat. Tapi saya memilih tidak mempercayainya. Mengingat Akang itu sudah menyebutkan hal yang sama berkali-kali dan kami belum juga sampai di kampung Cibeok. Saya sedikit girang saat mencumpai Leuit, semacam rumah tempat menyimpan padi suku Baduy dalam. Logikanya, kalau sudah menemui Leuit, maka perkampungan sudah dekat. Karena mereka tidak mungkin menyimpan hasil tani terlalu jauh kan? Lagi-lagi perkiraan saya salah. Belum juga kami temui kampung   yang dimaksud meskipun sudah melalui beberapa Leuit.

Setelah meniti jembatan, perasaan lega saya meluap-luap saat melihat cahaya dan suara orang-orang. Akhirnya kami tiba di kampung Cibeok. Sedikit terkejut saya mendapati banyak penjual makanan dan minuman hangat saat memasuki kampung. Saya, luluk, mba rebeka dan Mas agit duduk di tangga depan salah satu rumah warga suku baduy. Sambil menikmati wafer dan teh hangat traktiran dari Mas Agit. Setelah itu kami berganti pakaian dan masuk ke dalam rumah suku Baduy untuk beristirahat. Baru beberapa menit duduk, sudah berdatangan penjual dari yang menawarkan gantungan kunci, kaos, baju khas Badui, serta madu. Suasana jadi riuh karena terjadi tawar menawar yang alot. Pembeli kalah karena hanya berhasil menawar dengan harga tipis .  Setelah berbelanja, kami makan malam dan tertidur dengan pulas tanpa gosok gigi. Tak apalah, Cuma untuk satu malam :D


Maaf kalau tulisan saya panjang. Hehehe, sebenarnya ada banyak momen yang masih ingin saya tuliskan. Jika ingin mengetahui tentang Persipan dan Biaya Perjalanan ke suku Baduy Dalam, klik di sini. Tunggu lanjutan dari cerita di atas ya ;)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar