Jum’at, 29 Mei 2015, hati saya
berbunga-bunga. Sebentar lagi saya akan bertemu Andrea Hirata, penulis favorit
sejak SMA. Tepat hari ini, Andrea Hirata launching novel berjudul ‘Ayah’
setelah lama tak ada kabar tentang karyanya. Bersyukur, saya dapat info
launching buku tersebut melalui twitter. Serta merta waktu dan lokasinya saya
catat. Tak lupa jalur transportasi umum menuju gramedia Matraman, yang merupakan
lokasi launching, saya catat juga dengan
rapi. Tentunya setelah browsing dan bertanya kesana kemari pada ‘om’ google.
Saat tiba di Gramedia Matraman, acara sudah dimulai. Estimasi waktu perjalanan yang saya rancang ternyata meleset. Kendaraan-kendaraan di jakarta sepertinya bersekongkol untuk menciptakan kemacetan. Beruntung, Andrea Hirata belum beranjak dari function room Gramedia Matraman saat saya tiba. Tak ada lagi kursi kosong, jadi saya harus maju dan duduk melantai di karpet depan panggung. Hal ini menguntungkan saya karena bisa mengambil gambar Andrea Hirata dari jarak dekat dengan kamera handphone.
![]() |
| Andre Hirata sedang Menjawab Pertanyaan Penonton |
![]() |
| Kesan Bertemu Andrea Hirata : Humoris ! |
Humoris. Merupakan kesan yang saya tangkap saat melihat Andrea Hirata menjawab pertanyaan-pertanyaan dari penggemarnya yang hadir. Ia mampu membuat saya terus mendengarkannya bercerita sampai akhir. Guyonan segar ala orang melayunya masih melekat kuat. Kalau biasa membaca karya-karya Andrea Hirata, anda akan tahu persis.
“Bermimpilah, jangan dahului nasibmu” Andrea Hirata mengucapkan kalimat itu berkali-kali. Ia bercerita tentang ‘ketidakproduktifan’nya dalam dunia membuat novel karena disibukkan dengan proses penerjemahan novel Laskar Pelangi. Tak tanggung-tanggung, Laskar Pelangi diterjemahkan ke dalam 34 bahasa asing dan diterbitkan oleh penerbit-penerbit terkemuka.
Total novel yang sudah
diterbitkan Andrea Hirata sebanyak 8 novel yaitu Laskar Pelangi, Sang Pemimpi,
Edensor, maryama Karpov, Padang Bulan, Cinta Dalam Gelas, Sebelas Patriot dan yang terakhir adalah
novel Ayah.
Seperti novel-novel sebelumnya, novel ‘Ayah’ mampu membuat saya tertawa, menangis, tertawa lagi, menangis lagi. Mungkin efek ini bisa berbeda untuk setiap pembaca. Saya memang tipe sensitif dan gampang menangis. Saat menulis ini, saya sudah selesai membaca novel ‘Ayah’ dan merasa sangat puas dengan endingnya.
“Anda adalah penulis yang hebat...” begitu kata salah seorang penggemar Andrea Hirata yang jauh-jauh datang dari luar negeri untuk menghadiri launching buku ‘Ayah’. Saya lupa dia datang dari Brunai darussalam atau Singapore. Wanita itu mengenakan Jilbab dan bertanya dalam logat melayu yang kental. “...Banyak penulis Indonesia yang hebat-hebat. Anda belum kenal saja” Andrea Hirata menjawab pertanyaan wanita itu dengan merendah. Sembari menyebutkan satu persatu nama penulis Indonesia yang jadi idolanya.
![]() |
| Andrea Hirata Menceritakan Pengalamannya Selama Mendapat Beasiswa |
Karena tidak mengikuti keseluruhan rangkaian acara, tak banyak cerita tentang novel ‘Ayah’ yang saya tangkap, tapi saya janji akan menuliskan resensinya. Saat mengesankan ketika menghadiri lunching novel ;Ayah’ adalah ketika Andrea Hirata menceritakan pengalamannya mendapatkan beasiswa studi sastra dan bersekolah di Universitas of Lowa, USA. Ia tak sendiri, ada banyak penulis ternama dari seluruh belahan dunia yang mendapatkan beasiswa serupa. Mereka ditempatkan dalam satu kelas dan Andrea Hirata adalah satu-satunya penulis yang karyanya belum pernah diterbitkan di New York. Sekedar informasi, novel-novel yang diterbitkan di New York mendapatkan prestige tersendiri di kalangan penulis. Salah satu mata kuliah Andrea Hirata saat itu adalah ‘Reading’ yang mengharuskan ia dan teman-teman sekelasnya membaca novel di sebuah toko buku yang sudah ditentukan.
Tebak, ada berapa orang yang hadir saat reading novel Andrea Hirata? Tak ada. Ia terus menunggu. Tiba-tiba datang dua orang yang duduk kursi penonton. Mereka mengenakan seragam tukang bersih-bersih. Saat itu Andrea sadar kalau mereka dalah suruhan pemilik toko yang merasa tak enak hati karena kursi penonton yang masih kosong. Andrea terus membaca. Cuaca diluar sedang hujan deras. Tidak lama datang 2 pasang anak muda. Tebakannya, mereka datang karena sedang berteduh. Duduk di kursi penonton dan melakukan hal tak senonoh ala anak muda Amerika.
Andrea terus membaca. Sudah ada 6 penonton. Kemudian datang seorang perumpuan berusia baya, membawa payung dan duduk dengan tenang di kursi penonton. Ia sesekali mengangguk dan tersenyum mendengar Andrea Hirata membacakan novelnya. Setelah selesai, Andrea merasa sangat lega. Ia didekati oleh wanita tua yang datang terakhir itu dan mengatakan “May I have the book?” Andrea memberikannya dengna senang hati. Permpuan itu berlalu dan memberikan kartu namanya. Ternyata ia dari Kathleen Anderson Literary Management. Yang pada akhirnya mau menerbitkan novel Laskar Pelangi versi bahasa Inggris.
“I told you, keep dreaming” Andrea Hirata mengakhiri ceritanya dengan tepuk tangan meriah dari para penonton.
![]() |
| Penggemar Berdesakan Meminta Tanda Tangan |
![]() |
| Senang Bisa Foto Dengan Penulis Idola |
Launching buku Ayah diakhiri
dengan sesi tanda tangan dan berfoto dengan Andrea Hirata. Saya dan penggemar
Andrea yang lain akan terus menunggu karya-karya selanjutnya dari pria
kelahiran belitong ini. Keep Writing Bang Andrea J





Tidak ada komentar:
Posting Komentar