Minggu, 21 Juni 2015

Catatan Perjalanan ke Suku Baduy Dalam (Part 2)

Pada tulisan sebelumnya saya sudah menceritakan separuhperjalanan saya ke suku Baduy Dalam serta bagaimana cara ke suku Baduy Dalam. Dalam tulisan ini saya akan melanjutkan ‘curhatan’ tentang perjalanan ke suku yang menyebut diri mereka orang kanekes ini.
Lagi-lagi berfoto sebelum kembali ke Jakarta
Sampai di tempat yang dituju setelah berjam-jam perjalanan seperti menemukan oase di padang pasir, rasanya sangat senang dan lega . Semoga perumpamaan ini tidak terlalu lebay, karena perasaan lega yang sama saya rasakan saat menginjakkan kaki di perkampungan suku baduy  dalam. Setelah perjalanan melalui tanjakan dan turunan yang tak terhitung serta harus menembus hujan, wajar rasanya saya ingin berteriak keras-keras begitu duduk di teras rumah warga baduy ala pendaki Mahameru gitu.  Untungnya saya masih ingat kalau sedang berada di kampung orang dan harus menjaga sikap (hehhe). 

Belum juga kami masuk ke salah satu rumah warga untuk istirahat,  penjual-penjual buah tangan khas Baduy sudah langsung menghadang  kami dengan  berbagai macam barang untuk dibeli. Mana suku Baduy yang anti modernisasi itu ? Saya sedikit takjub. Penjual-penjual ini ada yang berpakaian Baduy, ada juga yang mengenakan kaos oblong. Belakangan saya tahu kalau pedagang yang berkaos oblong adalah orang  luar yang datang menjajakan dagangan mereka di kawasan suku Baduy Dalam setelah sebelumnya  membayar sejumlah uang ke Jaro (tetua adat). Semacam uang pajak dagang mungkin.

Sebelumnya, ketika memasuki area kampung , sudah ada penjual makanan dan minuman yang menjajakan dagangan mereka di depan rumah-rumah warga.  Bukan makanan atau minuman tradisional ya, tapi makanan dan minuman yang ber ‘merk’ dan banyak diiklankan d tivi. What a surprise!

Suku Baduy ternyata sudah mulai terbuka dengan dunia luar. Dalam ilmu antropologi, warga suku Baduy Dalam sedang mengalami proses akulturasi. Menurut Koentjaraningrat, bapak antropologi Indonesia, akulturasi merupakan proses sosial yang timbul jika sekelompok manusia dengan kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur-unsur kebudayaan asing. Akibatnya, unsur-unsur kebudayaan asing diterima dan diolah kedalam kebudayaan sendiri tanpa menyebabkan hilangnya kebudayaan asli. Proses ini berlangsung lama karena diterima secara selektif oleh anggota dalam kebudayaan tersebut, seperti yang terjadi di Baduy Dalam. 
anak-anak suku baduy

Selain soal penjual tadi, Buku IPS masa sekolahku ternyata tidak salah, Baduy Dalam memang belum tersentuh listrik. Sumber penerangan hanya obor, lampu charger serta senter yang kami bawa. Kalau masih hidup, mungkin Thomas Alfa Edison akan bersedih melihat masih ada sekelompok orang yang tidak mengggunakan listrik. Bukan karena tidak mendapatakan akses, tapi mereka memang tak mau ada listrik di Suku Baduy Dalam.  Katanya, menggunakan listrik melanggar adat.

Kekukuhan masyarakat Baduy Dalam dalam memegang adat bukan tanpa alasan. Mereka percaya, dengan turun temurun menjaga warisan nenek moyang dan menjaga alam, maka alam juga yang akan menjaga mereka.  Aih, mungkin pejabat-pejabat di kota sana harus studi banding ke kampung ini, bukan ke luar negeri.  Belajar tentang bagimana menghargai dan mencintai alam. Biar tidak ada lagi pembalakan liar perusahaan tertentu yang ijinnya dengan mulus disetujui oleh mereka.

Karena tidak boleh mengambil gambar, tak ada satupun foto kami di  Baduy Dalam. Sudah menjadi aturan tidak boleh berfoto di area suku Baduy Dalam. Tidak hanya itu, pengunjung atau orang luar yang masuk ke suku Baduy Dalam juga tidak diperkenankan menggunakan detergent, sabun atau pasta gigi di sungai. Wah, hidup seperti ini akan sangat menghemat belanjaan. Tapi kalau di kota, saya tidak sarankan melakukan hal serupa.

Kalau dilihat dari model rumah suku Baduy Dalam, tidak jauh dari model rumah suku Baduy Luar. Mungkin bedanya terletak pada penggunaan alat pembuatannya. Baduy dalam tidak menggunakan paku, sedangkan Baduy luar sebaliknya. Bagian dalam rumah suku baduy dalam sangat sederhana. Ada ruangan lapang seperti ruang tamu,  dengan satu kamar bersekat serta dapur. Saya tak melihat ada jendela.

Keberadaan kami di suku baduy dalam hanya beberapa jam saja. Boleh dikatakan, kami hanya menumpang tidur, makan dan buang air. Waktu yang terbatas serta medan perjalanan yang masih jauh membuat kami harus meninggalkan Suku Baduy Dalam secepatnya.

Keesokan harinya, tepat jam 8 rombongan kami meninggalkan perkampungan suku Baduy Dalam setelah sebelumnya pamit pada tuan rumah yang begitu ramah. Kami melalui jalur yang berbeda kali ini. Dengan rute tanjakan dan turunan yang hampir sama dengan jalur kedatangan kami. Bedanya, beberapa kilometer sebelum perkampungan terakhir, jalanan sudah berubah menjadi bebatuan bercampur tanah yang bisa dilalui motor dan mobil.

Di perjalanan pulang, kami melalui beberpaa jembatan. Salah satunya jembatan akar yang terletak di kampung Batara. Jembatan akar ini panjangnya sekitar 15 meter (saya agak buruk dalam memperkirakan jarak +_+) yang terbentang diatas sungai Ciujung. Jembatan ini terbuat dari akar yang kokoh serta bambu sebagai tempat berpijak. Sayangnya ada banyak tulisan di jembatan akar yang sungguh merusak mata. semoga tidak ada lagi yang melakukan hal serupa.
jembatan akar yang terbentang kokoh






Setelah jembatan akar, jembatan-jembatan selanjutnya tergolong modern karena sudah tidak menggunakan akar atau bambu lagi. Di dekat jembatan-jembatan yang ‘modern’ ini terdapat tugu berukir PNPM mandiri pedesaan, progam pemerintah yang  memberdayakan masyarakat pedesaan. Program ini berhenti di akhir tahun 2014.

Rombongan kami yang terdiri dari mayoritas kaum hawa mempunyai karakter yang berbeda-beda. Ada yang ramah, cool, pendiam, dan ribut. Tentunya terlalu dini jika menilai orang hanya dari pertemuan satu hari, tapi bagi saya itu cukup untuk sekedar memberikan gambaran sederhanana tentang karakter dan watak mereka. Sebut saja Eneng, perempuan berparas manis yang sukses jadi bulan-bulanan anggota trip. Sifatnya yang periang dan doyan foto membuatnya bisa dekat dengan siapa saja. Ia bisa menjadi penghibur disela lelah perjalanan yang menjadi-jadi.

Over all, perjalanan kali ini menyisakan banyak kenangan. Saya menemukan banyak teman-teman baru yang tak terlupakan. Perempuan-perempuan berotot besi bertulang baja yang mampu menembus jalan yang kadang terjal dengan ngos-ngosan, tapi secara ajaib bisa kembali bersemangat dan memasang senyum sumringah saat melihat kamera.

Tidak lupa juga dengan Mas-Mas super keren yang jumlahnya hanya segelintir saja. Termasuk akang-akang Baduy yang menjadi guide kami. Eh, tapi jangan salah, mereka yang ‘segelintir’ ini yang menjaga kami (kaum hawa) dan memastikan tidak ada yang tertinggal di belakang. Yang dengan sabar mengikuti ritme berjalan kami yang terkadang melambat karena lelah. Yang bersedia membawakan tas kami masih dengan senyum.
teman baru, saudara baru
Semoga kita bisa dipertemukan dengan perjalanan-perjalan seru lainnya, dan bisa terus bersyukur bahwa kita dilahirkan di bumi Indonesia.

PS: Kami ketinggalan kereta  jadi harus naik angkot menuju stasiun maja dan nyambung naik commuter line. Sebenarnya mobil elep yang kami kendarai dari desa terakhir harusnya bisa mengantarkan kami sampai stasiun maja, tapi karena Remnya sedang tidak bersahabat sehingga sang sopir tak berani mengantarkan kami lebih jauh. Terima kasih bapak-bapak sopir yang tidak sempat saya tanyakan namanya :D

1 komentar: