Pada tulisan sebelumnya saya sudah menceritakan separuhperjalanan saya ke suku Baduy Dalam serta bagaimana cara ke suku Baduy Dalam.
Dalam tulisan ini saya akan melanjutkan ‘curhatan’ tentang perjalanan ke suku yang menyebut diri mereka orang kanekes ini.
![]() |
| Lagi-lagi berfoto sebelum kembali ke Jakarta |
Sampai di tempat yang dituju setelah berjam-jam perjalanan
seperti menemukan oase di padang pasir, rasanya sangat senang dan lega . Semoga
perumpamaan ini tidak terlalu lebay, karena perasaan lega yang sama saya
rasakan saat menginjakkan kaki di perkampungan suku baduy
dalam. Setelah perjalanan melalui tanjakan dan turunan yang tak
terhitung serta harus menembus hujan, wajar rasanya saya ingin berteriak
keras-keras begitu duduk di teras rumah warga baduy ala pendaki Mahameru gitu. Untungnya saya masih ingat kalau sedang berada
di kampung orang dan harus menjaga sikap (hehhe).
Belum juga kami masuk ke salah satu rumah warga untuk
istirahat, penjual-penjual buah tangan
khas Baduy sudah langsung menghadang kami
dengan berbagai macam barang untuk
dibeli. Mana suku Baduy yang anti modernisasi itu ? Saya sedikit takjub.
Penjual-penjual ini ada yang berpakaian Baduy, ada juga yang mengenakan kaos
oblong. Belakangan saya tahu kalau pedagang yang berkaos oblong adalah orang luar yang datang menjajakan dagangan mereka di
kawasan suku Baduy Dalam setelah sebelumnya membayar sejumlah uang ke Jaro (tetua adat). Semacam
uang pajak dagang mungkin.
Sebelumnya, ketika memasuki area kampung , sudah ada penjual
makanan dan minuman yang menjajakan dagangan mereka di depan rumah-rumah warga.
Bukan makanan atau minuman tradisional
ya, tapi makanan dan minuman yang ber ‘merk’ dan banyak diiklankan d tivi. What
a surprise!
Suku Baduy ternyata sudah mulai terbuka dengan dunia luar.
Dalam ilmu antropologi, warga suku Baduy Dalam sedang mengalami proses akulturasi.
Menurut Koentjaraningrat, bapak antropologi Indonesia, akulturasi merupakan proses sosial
yang timbul jika sekelompok manusia dengan kebudayaan tertentu dihadapkan
dengan unsur-unsur kebudayaan asing. Akibatnya, unsur-unsur kebudayaan asing
diterima dan diolah kedalam kebudayaan sendiri tanpa menyebabkan hilangnya
kebudayaan asli. Proses ini berlangsung lama karena diterima secara selektif oleh
anggota dalam kebudayaan tersebut, seperti yang terjadi di Baduy Dalam.
![]() |
| anak-anak suku baduy |
Selain soal penjual tadi, Buku IPS masa sekolahku ternyata
tidak salah, Baduy Dalam memang belum tersentuh listrik. Sumber penerangan
hanya obor, lampu charger serta senter yang kami bawa. Kalau masih hidup,
mungkin Thomas Alfa Edison akan bersedih melihat masih ada sekelompok orang
yang tidak mengggunakan listrik. Bukan karena tidak mendapatakan akses, tapi
mereka memang tak mau ada listrik di Suku Baduy Dalam. Katanya, menggunakan listrik melanggar adat.
Kekukuhan masyarakat Baduy Dalam dalam memegang adat bukan
tanpa alasan. Mereka percaya, dengan turun temurun menjaga warisan nenek moyang
dan menjaga alam, maka alam juga yang akan menjaga mereka. Aih, mungkin pejabat-pejabat di kota sana
harus studi banding ke kampung ini, bukan ke luar negeri. Belajar tentang bagimana menghargai dan
mencintai alam. Biar tidak ada lagi pembalakan liar perusahaan tertentu yang
ijinnya dengan mulus disetujui oleh mereka.
Karena tidak boleh mengambil gambar, tak ada satupun foto
kami di Baduy Dalam. Sudah menjadi aturan tidak boleh berfoto di area suku
Baduy Dalam. Tidak hanya itu, pengunjung atau orang luar yang masuk ke suku Baduy Dalam juga tidak diperkenankan menggunakan detergent, sabun atau pasta
gigi di sungai. Wah, hidup seperti ini akan sangat menghemat belanjaan. Tapi kalau
di kota, saya tidak sarankan melakukan hal serupa.
Kalau dilihat dari
model rumah suku Baduy Dalam, tidak jauh dari model rumah suku Baduy Luar. Mungkin
bedanya terletak pada penggunaan alat pembuatannya. Baduy dalam tidak menggunakan
paku, sedangkan Baduy luar sebaliknya. Bagian dalam rumah suku baduy dalam
sangat sederhana. Ada ruangan lapang seperti ruang tamu, dengan satu kamar bersekat serta dapur. Saya tak
melihat ada jendela.
Keberadaan kami di suku baduy dalam hanya beberapa jam saja.
Boleh dikatakan, kami hanya menumpang tidur, makan dan buang air. Waktu yang
terbatas serta medan perjalanan yang masih jauh membuat kami harus meninggalkan
Suku Baduy Dalam secepatnya.
Keesokan harinya, tepat jam 8 rombongan kami meninggalkan
perkampungan suku Baduy Dalam setelah sebelumnya pamit pada tuan rumah yang
begitu ramah. Kami melalui jalur yang berbeda kali ini. Dengan rute tanjakan
dan turunan yang hampir sama dengan jalur kedatangan kami. Bedanya, beberapa
kilometer sebelum perkampungan terakhir, jalanan sudah berubah menjadi bebatuan
bercampur tanah yang bisa dilalui motor dan mobil.
Di perjalanan pulang, kami melalui beberpaa jembatan. Salah satunya
jembatan akar yang terletak di kampung Batara. Jembatan akar ini panjangnya sekitar
15 meter (saya agak buruk dalam memperkirakan jarak +_+) yang terbentang diatas
sungai Ciujung. Jembatan ini terbuat dari akar yang kokoh serta bambu sebagai
tempat berpijak. Sayangnya ada banyak tulisan di jembatan akar yang sungguh
merusak mata. semoga tidak ada lagi yang melakukan hal serupa.
| jembatan akar yang terbentang kokoh |
Setelah jembatan akar, jembatan-jembatan selanjutnya
tergolong modern karena sudah tidak menggunakan akar atau bambu lagi. Di dekat jembatan-jembatan yang ‘modern’ ini terdapat tugu berukir PNPM mandiri pedesaan, progam
pemerintah yang memberdayakan masyarakat
pedesaan. Program ini berhenti di akhir tahun 2014.
Rombongan kami yang terdiri dari mayoritas kaum hawa
mempunyai karakter yang berbeda-beda. Ada yang ramah, cool, pendiam, dan ribut.
Tentunya terlalu dini jika menilai orang hanya dari pertemuan satu hari, tapi
bagi saya itu cukup untuk sekedar memberikan gambaran sederhanana tentang
karakter dan watak mereka. Sebut saja Eneng, perempuan berparas manis yang
sukses jadi bulan-bulanan anggota trip. Sifatnya yang periang dan doyan foto
membuatnya bisa dekat dengan siapa saja. Ia bisa menjadi penghibur disela lelah
perjalanan yang menjadi-jadi.
Over all, perjalanan kali ini menyisakan banyak kenangan. Saya
menemukan banyak teman-teman baru yang tak terlupakan. Perempuan-perempuan
berotot besi bertulang baja yang mampu menembus jalan yang kadang terjal dengan ngos-ngosan, tapi secara ajaib bisa
kembali bersemangat dan memasang senyum sumringah saat melihat kamera.
Tidak lupa juga dengan Mas-Mas super keren yang jumlahnya hanya
segelintir saja. Termasuk akang-akang Baduy yang menjadi guide kami. Eh, tapi
jangan salah, mereka yang ‘segelintir’ ini yang menjaga kami (kaum hawa) dan memastikan
tidak ada yang tertinggal di belakang. Yang dengan sabar mengikuti ritme berjalan
kami yang terkadang melambat karena lelah. Yang bersedia membawakan tas kami
masih dengan senyum.
![]() |
| teman baru, saudara baru |
Semoga kita bisa dipertemukan dengan perjalanan-perjalan
seru lainnya, dan bisa terus bersyukur bahwa kita dilahirkan di bumi Indonesia.
PS: Kami ketinggalan kereta jadi harus naik angkot menuju stasiun maja dan
nyambung naik commuter line. Sebenarnya mobil elep yang kami kendarai dari desa
terakhir harusnya bisa mengantarkan kami sampai stasiun maja, tapi karena
Remnya sedang tidak bersahabat sehingga sang sopir tak berani mengantarkan kami
lebih jauh. Terima kasih bapak-bapak sopir yang tidak sempat saya tanyakan
namanya :D



Tes Komentar
BalasHapus