Sudah hampir dua minggu saya di Jakarta dan tak pernah
sekalipun mencoba transportasi publik. Bayang-bayangan kejahatan dan
kriminalitas yang tinggi di Ibu kota membuat nyali saya ciut. Bagaimana
kalau dicopet? Bagaimana kalau dirampok?
Bagaimana kalau saya dihipnotis? Pikiran-pikiran seperti itu membuat kamar
kosan saya menjadi begitu sumpek.
Akhir minggu ke dua, saya memutuskan untuk mencoba Commuter
Line (KRL)/ Kereta Jakarta. Tentu sebelumnya saya banyak bertanya pada teman di
jakarta yang sudah terbiasa naik kereta. Mereka meyakinkan, naik kereta itu
aman.
Hal pertama yang saya lakukan adalah browsing cara naik
kereta. Informasi dari teman-teman belum cukup meyakinkan. Tidak lupa, peta
jalur kereta saya download dan simpan dengan rapi di galeri hape.
Seperti halnya trans Jakarta, KRL Jakarta sudah tidak
menggunakan tiket kertas atau uang cash. Mungkin ini salah satu upaya
pemerintah dalam menciptakan less cash society dan transportasi yang lebih
praktis. Sebagai gantinya, disediakan tiket kereta berbentuk kartu yang dibeli
pada loket dan tersedia di semua stasiun kereta. Uang elektronik juga bisa
digunakan untuk pembayaran tiket kereta.
Saat memasuki stasiun, kita akan menjumpai gerbang. Di
gerbang inilah kartu tiket atau uang elektronik di screening atau di Tap yaitu
meletakkan kartu di tempat yang tersedia, maka saldo uang elektronik anda akan
otomatis dikurangi untuk pembayaran tiket.
Hal utama dan paling utama saat melakukan perjalanan adalah
mengetahui tujuan akhir anda. Pastikan dulu dimana tempat yang akan dituju dan
sesuaikan dengan jalur kereta. Misalnya, saya mau ke Kota Tua Jakarta. Dari
informasi yang saya dapatkan, kota tua jakarta bisa ditempuh dengan berjalan
kaki dari stasiun Kota. Artinya saya harus turun di stasiun kota. Nah, saya
berangkat dari stasiun palmerah jadi harus transit di stasiun tanah abang,
kemudian naik kereta lagi dan transit di manggarai. Dari stasiun manggarai lalu
mengambil kereta jurusan stasiun Kota Jakarta. So, pahami dulu cara membaca
peta dan pastikan kamu mengerti.
Ada kalanya kita harus menunggu kereta di stasiun. Sebelum
naik kereta, lihat tulisan yang tertera di stasiun. Akan ada nomor jalur dan
tujuan kerta. Tapi, jalur kereta bisa berubah sewaktu-waktu loh.
Jadi bertanyalah pada petugas stasiun kereta api. Mereka gampang sekali ditemui
karena mengenakan seragam mirip tentara. Mereka berdiri hampir di setiap sudut
stasiun.
Menggunakan transportasi publik artinya kamu siap berbagi
dengan orang lain karena transportasi itu bukan milik kamu (ya iyalah +_+).
Jumlah penumpang kereta bisa membeludak dipagi hari jam kerja atau sore hari,
sepulang jam kerja. Jadi kamu harus siap berdesak-desakan, mencium segala aroma
penumpang yang lain atau berdiri karena tidak kebagian tempat duduk.
Perlu kamu tahu, gerbong kereta paling depan dan paling
belakang adalah khusus untuk perempuan. Tandanya, gerbong berwarna pink dan cerah bergambarkan
perempuan. Karena gerbong ini khusus perempuan, kamu yang laki-laki akan diusir
oleh petugas jika berani duduk di gerbong ini.
Beberapa kursi di gerbong kereta disebut kursi prioritas.
Kursi ini khusus untuk orang-orang difable, orang tua, orang hamil atau orang
yang membawa anak. Sebenarnya semua kursi di dalam transportasi umum adalah
kursi prioritas. Saat kamu duduk dan melihat ada ibu hamil yang berdiri,
ambillah inisiatif untuk mempersilahkannya duduk. Bayangkan kalau kamu adalah
dia. *eh. Atau bayangkan kalau yang berdiri adalah ibu kamu. Dengan begitu,
akan lebih mudah mengikhlaskan diri. Dengan belajar peka dan perhatian dengan
lingkungan sekitar, yakinlah, Tuhan akan menurunkan berkahnya kepada kita.
Berada di transportasi publik dengan banyak petugas tidak
serta merta menjauhkan kamu dari bahaya atau kejahatan orang lain. Bukan
bermaksud menakut-nakuti ya, tetapi tidak ada salahnya untuk tetap waspada.
Caranya, jika membawa tas ransel, selalu letakkan ranselmu di depan. Selain
itu, letakkan benda-benda berharga seperti dompet dan hape di kantong tas
paling dalam. Jangan gegabah, kejahatan bukan hanya terjadi karena ada niat
tapi juga karena ada kesempatan. Waspadalah! Waspadalah!
Oh iya, di dalam kereta juga terpampang peta jalur kereta
tepat diatas setiap pintu gerbong. Setiap akan memasuki stasiun tertentu, akan
ada suara operator yang menyebutkan nama stasiun tersebut.
Setelah sampai di stasiun terakhir, segera cari toilet jika
kamu ingin pipis, atau mushallah jika kamu ingin shalat. Tap kembali tiket atau
uang elektronik yang kamu punya di gerbang keluar stasiun.
Terakhir, jangan pernah takut untuk naik transportasi umum.
Banggalah telah menjadi salah seorang aktivis lingkungan. Karena naik
transportasi umum artinya kamu tidak ikut menyumbang polusi gas rumah kaca.
Selamat mencoba kereta, tetap waspada ya J

Tidak ada komentar:
Posting Komentar