Kamis, 04 Juni 2015

Cara Naik Kereta di Jakarta


Sudah hampir dua minggu saya di Jakarta dan tak pernah sekalipun mencoba transportasi publik. Bayang-bayangan kejahatan dan kriminalitas yang tinggi di Ibu kota membuat nyali saya ciut. Bagaimana kalau  dicopet? Bagaimana kalau dirampok? Bagaimana kalau saya dihipnotis? Pikiran-pikiran seperti itu membuat kamar kosan saya menjadi begitu sumpek.

Akhir minggu ke dua, saya memutuskan untuk mencoba Commuter Line (KRL)/ Kereta Jakarta. Tentu sebelumnya saya banyak bertanya pada teman di jakarta yang sudah terbiasa naik kereta. Mereka meyakinkan, naik kereta itu aman.
Hal pertama yang saya lakukan adalah browsing cara naik kereta. Informasi dari teman-teman belum cukup meyakinkan. Tidak lupa, peta jalur kereta saya download dan simpan dengan rapi di galeri hape.

Seperti halnya trans Jakarta, KRL Jakarta sudah tidak menggunakan tiket kertas atau uang cash. Mungkin ini salah satu upaya pemerintah dalam menciptakan less cash society dan transportasi yang lebih praktis. Sebagai gantinya, disediakan tiket kereta berbentuk kartu yang dibeli pada loket dan tersedia di semua stasiun kereta. Uang elektronik juga bisa digunakan untuk pembayaran tiket kereta.
Saat memasuki stasiun, kita akan menjumpai gerbang. Di gerbang inilah kartu tiket atau uang elektronik di screening atau di Tap yaitu meletakkan kartu di tempat yang tersedia, maka saldo uang elektronik anda akan otomatis dikurangi untuk pembayaran tiket. 

Hal utama dan paling utama saat melakukan perjalanan adalah mengetahui tujuan akhir anda. Pastikan dulu dimana tempat yang akan dituju dan sesuaikan dengan jalur kereta. Misalnya, saya mau ke Kota Tua Jakarta. Dari informasi yang saya dapatkan, kota tua jakarta bisa ditempuh dengan berjalan kaki dari stasiun Kota. Artinya saya harus turun di stasiun kota. Nah, saya berangkat dari stasiun palmerah jadi harus transit di stasiun tanah abang, kemudian naik kereta lagi dan transit di manggarai. Dari stasiun manggarai lalu mengambil kereta jurusan stasiun Kota Jakarta. So, pahami dulu cara membaca peta dan pastikan kamu mengerti.

Ada kalanya kita harus menunggu kereta di stasiun. Sebelum naik kereta, lihat tulisan yang tertera di stasiun. Akan ada nomor jalur dan tujuan kerta. Tapi, jalur kereta bisa berubah sewaktu-waktu  loh. Jadi bertanyalah pada petugas stasiun kereta api. Mereka gampang sekali ditemui karena mengenakan seragam mirip tentara. Mereka berdiri hampir di setiap sudut stasiun.

Menggunakan transportasi publik artinya kamu siap berbagi dengan orang lain karena transportasi itu bukan milik kamu (ya iyalah +_+). Jumlah penumpang kereta bisa membeludak dipagi hari jam kerja atau sore hari, sepulang jam kerja. Jadi kamu harus siap berdesak-desakan, mencium segala aroma penumpang yang lain atau berdiri karena tidak kebagian tempat duduk.

Perlu kamu tahu, gerbong kereta paling depan dan paling belakang adalah khusus untuk perempuan. Tandanya, gerbong  berwarna pink dan cerah bergambarkan perempuan. Karena gerbong ini khusus perempuan, kamu yang laki-laki akan diusir oleh petugas jika berani duduk di gerbong ini.
Beberapa kursi di gerbong kereta disebut kursi prioritas. Kursi ini khusus untuk orang-orang difable, orang tua, orang hamil atau orang yang membawa anak. Sebenarnya semua kursi di dalam transportasi umum adalah kursi prioritas. Saat kamu duduk dan melihat ada ibu hamil yang berdiri, ambillah inisiatif untuk mempersilahkannya duduk. Bayangkan kalau kamu adalah dia. *eh. Atau bayangkan kalau yang berdiri adalah ibu kamu. Dengan begitu, akan lebih mudah mengikhlaskan diri. Dengan belajar peka dan perhatian dengan lingkungan sekitar, yakinlah, Tuhan akan menurunkan berkahnya kepada kita.

Berada di transportasi publik dengan banyak petugas tidak serta merta menjauhkan kamu dari bahaya atau kejahatan orang lain. Bukan bermaksud menakut-nakuti ya, tetapi tidak ada salahnya untuk tetap waspada. Caranya, jika membawa tas ransel, selalu letakkan ranselmu di depan. Selain itu, letakkan benda-benda berharga seperti dompet dan hape di kantong tas paling dalam. Jangan gegabah, kejahatan bukan hanya terjadi karena ada niat tapi juga karena ada kesempatan. Waspadalah! Waspadalah!

Oh iya, di dalam kereta juga terpampang peta jalur kereta tepat diatas setiap pintu gerbong. Setiap akan memasuki stasiun tertentu, akan ada suara operator yang menyebutkan nama stasiun tersebut.
Setelah sampai di stasiun terakhir, segera cari toilet jika kamu ingin pipis, atau mushallah jika kamu ingin shalat. Tap kembali tiket atau uang elektronik yang kamu punya di gerbang keluar stasiun.


Terakhir, jangan pernah takut untuk naik transportasi umum. Banggalah telah menjadi salah seorang aktivis lingkungan. Karena naik transportasi umum artinya kamu tidak ikut menyumbang polusi gas rumah kaca. Selamat mencoba kereta, tetap waspada ya J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar