Minggu, 26 Oktober 2014

Saya dan Nenek


Nenek adalah salah satu orang paling kusayang di dunia. wajahnya yang teduh dan senyumnya yang selalu membahagiaan itu tidak akan pernah kulupa. Saat sadar  kalau dia sudah tak ada di dunia, rasanya seperti bernafas dan tidak ada udara yang masuk ke paru-paru. Kehilangan memang selalu menyesakkan. iya, untuk orang-orang yang tak ikhlas. Mungkin saya salah satunya. 

Meski saya sadar bahwa kematian adalah keniscayaan, mengingat kembali kebaikan nenek bisa tiba-tiba membuat mata saya berair. Saya masih ingat persis setiap kali kerumahnya mengantarkan adik sepupuku pulang dari taman kanak-kanak, nenek selalu menyiapkan kue. "tidak usah nek, nanti saya buat sendiri" jawaban itu selalu kuberikan saat nenek menawariku untuk minum teh. Karena selalu melihatku terburu-buru pulang, nenek acapkali membungkus kue untuk kubawa kekampus. Sering juga ia kudapati ia sedang tertidur ditengah shalat dhuhanya sampai tak sempat saya pamit saat meninggalkan rumahnya. 

Tulisan ini saya buat saat kerinduan pada nenek begitu mendesak-desak. Curhat? iya, memang. Semoga siapapun yang membaca tulisan ini dan masih mempunyai nenek, bisa lebih banyak berbakti padanya. Jangan pernah bosan mendengar cerita masa lalunya, atau sekedar meluangkan sedikit waktu untuk memijit punggungnya. Supaya suatu saat nanti, tak ada penyesalan untuk baktimu yang tak sempurna.

photo: nenek menggenggam tangan saya erat sesaat sebelum dipindahkan ke ICU.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar