"Hasan terlihat bermain-main dengan batu yang ia susun
berbentuk sebuah robot. Tidak jauh dari tempat Hasan, Aru juga sibuk
mengumpulkan batu. Tidak mau kalah ia membangun robot-robotan yang lebih besar.
Mereka tertawa bersama saat salah satu dari robot mereka jatuh menghempas
tanah. Kelak ketika besar, Hasan dikenal dengan nama Sultan Hasanuddin, dan Aru
dikenal dengan nama panjang Arung Palakka"
Adegan pada awal paragraf diatas tentu hanya ada dalam kepala saya. Membayangkan kebahagiaan masa kecil Arung Palakka dan Sultan Hasanuddin seperti anak-anak kebanyakan. Sebab mendengar cerita tentang mereka yang di masa kecil berteman dan diasuh oleh orang yang sama tetapi kemudian menjadi musuh perang pada tahun 1667.
Siapa yang tidak kenal
nama Sultan Hasanuddin dan Arung Palakka. Yang satu pahlawan nasional, dan yang satu lagi sering disebut pengkhianat karena bekerjasama dengan VOC. Nama keduanya menghiasi literatur sejarah kerajaan Gowa-Tallo. Kerajaan yang menjadi cikal bakal kota Makassar.
Sebenarnya saya tidak
suka mengungkit tentang masa lalu, karena hal tersebut biasanya menimbulkan
pertengkaran (eh). Toh, kejadian itu sudah terjadi berabad-abad silam.
Begitupun dengan kisah Sultan Hasanuddin dan Arung Palakka. Tentang siapa
pahlawan atau siapa penghianat. Cukup. saya tidak akan menuliskan hal tersebut.
Sekarang saatnya move on dan menatap
masa depan.
Apa mau dikata, Mengikuti kegiatan
TravelNBlog membuat saya ‘harus’ ikut menelusuri kembali jejak sejarah Makassar. Untuk yang belum tahu, TravelNBlog adalah kegiatan sharing dan workshop menulis cerita perjalanan yang berlangsung selama dua hari di Makassar. Salah satu sesi dalam TravelNBlog adalah mendatangi dua benteng bersejarah yaitu
Benteng Somba Opu dan Benteng Rotterdam. Bersama 11 orang peserta TravelNBlog
Makassar, perjalanan kami dimulai dengan menyambangi Benteng Somba Opu.
Benteng Somba Opu
dibangun pada abad XV oleh raja Gowa IX Daeng Marante Tupasiri Kallona pada
tahun 1550-1650. Butuh waktu seratus tahun lamanya untuk membangun salah satu
benteng kebanggaan orang Sulawesi ini.
Kalau dihitung, ini kali
kedua saya mendatangi Benteng Somba Opu. Pertama, saat pengkaderan mahasiswa
Muhammadiyah di awal semester kuliah. Saat itu tidak banyak yang bisa saya
ceritakan, selain kejadian kesurupan anak-anak perempuan yang mungkin lelah atau
kebanyakan menghayal saat diiberi materi. Mengunjungi Benteng Somba Opu yang
kedua kali ini berbeda. Tidak ada kejadian kesurupan ataupun bentakan senior. Saya
bisa leluasa melihat ke sekeliling area yang ternyata cukup luas.
Setelah penjelasan
mengenai sejarah panjang Benteng Somba Opu, kami diajak mengunjungi salah satu
museum yang berada di kawasan benteng. Museum ini dikenal dengan nama Museum
Karaeng Pattingallongan.
Beliau adalah salah satu
cendekiawan Sulawesi yang disegani penjajah karena kecerdasannya.
“…He knew all our mystery very well, had read with curiosity all the
chronicles of our European kings. He always had book of ours in hand,
especially those treating with mathematics, in which he was quite well versus.
Indeed, he had such a passion for all branches of the science that he worked at
it day and night. To hear him speak without seeing him one would … him for a
native Portuguese for he spoke the language as fluently as people from Lisbon
itself.
Jangan ragu-ragu untuk
membuka google translate jika tidak mengerti tulisan diatas. Tulisan tersebut terpajang
dalam bingkai kaca area museum dan merupakan keterangan dari Alexander Rhode
dalam tulisan Prof. Mr. Dr. H. Andi Zainal Abidin Farid, salah seorang pakar sejarah Universitas Hasanuddin.
Dari tulisan tersebut
tergambar jelas kecerdasan Karaeng Pattingalloang yang menguasai Bahasa
Portugis. Tidak hanya itu, ada juga yang menyebutkan ia menguasai enam sampai tujuh bahasa,
bahakan sangat mahir berbahasa latin. Kecerdasan itu tentu tidak didapatnya
dari kursus bahasa asing. Posisi sebagai Mangkubungi kerajaan Gowa-Tallo
membuat Karaeng Pattingalloang banyak
bergaul dengan orang Eropa yang datang membawa barang dagangan maupun yang
berdiam di Bandar Makassar.
Puas mengelilingi museum,
kami kembali ke mobil dan melanjutkan tour ke tempat berikutnya, Benteng
Rotterdam. Benteng ini jauh berbeda kondisinya dengan benteng Somba Opu. Selain
bangunan yang memang berbentuk ‘benteng’, area fort Rotterdam jauh lebih bersih
disbanding benteng sebelumnya. Lokasi yang berada tidak jauh dari Pantai Losari
membuat tempat ini sering ramai pengunjung.
Masyarakat Bugis-Makassar
dulu menamai benteng ini dengan nama Benteng Ujung Pandang. Tetapi setelah
jatuh ke tangan Belanda, Cornelis J. Speelman yang saat itu menjadi panglima
perang, mengganti nama Benteng Ujung Pandang menjadi Benteng Rotterdam. Nama
itu diambil dari nama kampung halaman Speelman di Belanda.
Meski sejak dulu tidak
menyukai pelajaran sejarah, perjalanan bersama peserta TravelNBlog Makassar
kali ini membuat saya melihat sejarah dari sisi berbeda. Sejarah bukan soal
mengingat puluhan tanggal penting dan tahun-tahun yang berdarah. Sejarah bukan
soal siapa pahlawan ataupun penghianat. Sejarah adalah pelajaran seumur hidup
yang kurikulumnya tidak boleh kaku seperti di sekolah.











Tidak ada komentar:
Posting Komentar