Sabtu, 05 Desember 2015

Menelusuri Jejak Sejarah Makassar (Cerita TravelNBlog Makassar)

"Hasan terlihat bermain-main dengan batu yang ia susun berbentuk sebuah robot. Tidak jauh dari tempat Hasan, Aru  juga sibuk mengumpulkan batu. Tidak mau kalah ia membangun robot-robotan yang lebih besar. Mereka tertawa bersama saat salah satu dari robot mereka jatuh menghempas tanah. Kelak ketika besar, Hasan dikenal dengan nama Sultan Hasanuddin, dan Aru dikenal dengan nama panjang Arung Palakka"

Adegan pada awal paragraf diatas tentu hanya ada dalam kepala saya. Membayangkan kebahagiaan masa kecil Arung Palakka dan Sultan Hasanuddin seperti anak-anak kebanyakan. Sebab mendengar cerita tentang mereka yang di masa kecil berteman dan diasuh oleh orang yang sama tetapi kemudian menjadi musuh perang pada tahun 1667.

Siapa yang tidak kenal nama Sultan Hasanuddin dan Arung Palakka. Yang satu pahlawan nasional, dan yang satu lagi sering disebut pengkhianat karena bekerjasama dengan VOC. Nama keduanya menghiasi literatur sejarah kerajaan Gowa-Tallo. Kerajaan yang menjadi cikal bakal kota Makassar. 

Sebenarnya saya tidak suka mengungkit tentang masa lalu, karena hal tersebut biasanya menimbulkan pertengkaran (eh). Toh, kejadian itu sudah terjadi berabad-abad silam. Begitupun dengan kisah Sultan Hasanuddin dan Arung Palakka. Tentang siapa pahlawan atau siapa penghianat. Cukup. saya tidak akan menuliskan hal tersebut. Sekarang saatnya move on dan menatap masa depan.

Apa mau dikata, Mengikuti kegiatan TravelNBlog membuat saya ‘harus’ ikut menelusuri kembali jejak sejarah Makassar. Untuk yang belum tahu, TravelNBlog adalah kegiatan sharing dan workshop menulis cerita perjalanan yang berlangsung selama dua hari di Makassar. Salah satu sesi dalam TravelNBlog adalah  mendatangi dua benteng bersejarah yaitu Benteng Somba Opu dan Benteng Rotterdam. Bersama 11 orang peserta TravelNBlog Makassar, perjalanan kami dimulai dengan menyambangi Benteng Somba Opu.

Benteng Somba Opu dibangun pada abad XV oleh raja Gowa IX Daeng Marante Tupasiri Kallona pada tahun 1550-1650. Butuh waktu seratus tahun lamanya untuk membangun salah satu benteng kebanggaan orang Sulawesi ini.

Kalau dihitung, ini kali kedua saya mendatangi Benteng Somba Opu. Pertama, saat pengkaderan mahasiswa Muhammadiyah di awal semester kuliah. Saat itu tidak banyak yang bisa saya ceritakan, selain kejadian kesurupan  anak-anak perempuan yang mungkin lelah atau kebanyakan menghayal saat diiberi materi. Mengunjungi Benteng Somba Opu yang kedua kali ini berbeda. Tidak ada kejadian kesurupan ataupun bentakan senior. Saya bisa leluasa melihat ke sekeliling area yang ternyata cukup luas.

Setelah penjelasan mengenai sejarah panjang Benteng Somba Opu, kami diajak mengunjungi salah satu museum yang berada di kawasan benteng. Museum ini dikenal dengan nama Museum Karaeng Pattingallongan.

Beliau adalah salah satu cendekiawan Sulawesi yang disegani penjajah karena kecerdasannya. 
“…He knew all our mystery very well, had read with curiosity all the chronicles of our European kings. He always had book of ours in hand, especially those treating with mathematics, in which he was quite well versus. Indeed, he had such a passion for all branches of the science that he worked at it day and night. To hear him speak without seeing him one would … him for a native Portuguese for he spoke the language as fluently as people from Lisbon itself.          
Jangan ragu-ragu untuk membuka google translate jika tidak mengerti tulisan diatas. Tulisan tersebut terpajang dalam bingkai kaca area museum dan merupakan keterangan dari Alexander Rhode dalam tulisan Prof. Mr. Dr. H. Andi Zainal Abidin Farid, salah seorang pakar sejarah Universitas Hasanuddin.

Dari tulisan tersebut tergambar jelas kecerdasan Karaeng Pattingalloang yang menguasai Bahasa Portugis. Tidak hanya itu, ada juga yang menyebutkan ia menguasai enam sampai tujuh bahasa, bahakan sangat mahir berbahasa latin. Kecerdasan itu tentu tidak didapatnya dari kursus bahasa asing. Posisi sebagai Mangkubungi kerajaan Gowa-Tallo membuat Karaeng Pattingalloang  banyak bergaul dengan orang Eropa yang datang membawa barang dagangan maupun yang berdiam di Bandar Makassar.

Puas mengelilingi museum, kami kembali ke mobil dan melanjutkan tour ke tempat berikutnya, Benteng Rotterdam. Benteng ini jauh berbeda kondisinya dengan benteng Somba Opu. Selain bangunan yang memang berbentuk ‘benteng’, area fort Rotterdam jauh lebih bersih disbanding benteng sebelumnya. Lokasi yang berada tidak jauh dari Pantai Losari membuat tempat ini sering ramai pengunjung.

Masyarakat Bugis-Makassar dulu menamai benteng ini dengan nama Benteng Ujung Pandang. Tetapi setelah jatuh ke tangan Belanda, Cornelis J. Speelman yang saat itu menjadi panglima perang, mengganti nama Benteng Ujung Pandang menjadi Benteng Rotterdam. Nama itu diambil dari nama kampung halaman Speelman di Belanda.

Meski sejak dulu tidak menyukai pelajaran sejarah, perjalanan bersama peserta TravelNBlog Makassar kali ini membuat saya melihat sejarah dari sisi berbeda. Sejarah bukan soal mengingat puluhan tanggal penting dan tahun-tahun yang berdarah. Sejarah bukan soal siapa pahlawan ataupun penghianat. Sejarah adalah pelajaran seumur hidup yang kurikulumnya tidak boleh kaku seperti di sekolah.














Tidak ada komentar:

Posting Komentar